Di paviliun bulan perak, Jelita masih diam terpaku menatap Mira tanpa menyadari dirinya sedang dalam pengaruh kekuatan sihir Mira.

"Mira, kenapa kamu di sini? Aku lihat kamu masuk ke portal bareng suku Surya. Mereka sekarang di mana?" tanyanya, bingung.

"Ternyata kamu masih ingat namaku ya, gadis cantik. Kamu nggak perlu khawatir soal mereka. Tapi coba pikirkan pria yang udah nyakitin kamu, yang nggak pernah benar-benar menghargaimu." Suara Mira terdengar lembut tapi menusuk, bergema di dalam kepala Jelita seperti bisikan halus yang membekas.

"Lynx..." Jelita menghela napas lirih. Bayangan tentang Lynx muncul kembali dan mencengkeram dadanya dengan rasa sesak yang tak tertahankan.

Mira menyentuh wajah Jelita dengan gerakan lembut, matanya menyimpan kilas balik saat pertama kali bertemu gadis itu. Saat itu, dia baru saja menghisap energi seorang gadis untuk mempertahankan kemudaannya. Selama tinggal di planet Surya, Mira bersama keempat rekannya terus berpindah-pindah, menyamar dan bergabung dengan kelompok penduduk yang terpencar. Mereka menggunakan sedikit kekuatan yang tersisa untuk memanipulasi pikiran para penduduk yang terpecah agar bisa menerima kehadiran mereka. Mereka bergabung dengan penduduk lainnya bukan hanya karena kekuatan mereka melemah, tapi juga demi menghindari ancaman dari suku Monrest dan kelompok-kelompok lain yang tunduk pada kekuasaan Monrest.

Awal pertemuan dengan Lynx terjadi ketika Mira dan rekan-rekannya sedang dikejar oleh sekelompok perampok yang mengumpulkan penduduk untuk ritual pengorbanan suku Momrest. Mereka melarikan diri saat para perampok mendekati kelompok kecil yang sedang mereka ikuti. Seorang pemuda dari kelompok itu bertindak pengecut membocorkan pelarian mereka  sehingga hampir membuat mereka tertangkap. Dalam kekacauan itu, mereka berpapasan dengan Lynx yang muncul tepat waktu dan menyelamatkan mereka.

Mira sempat terkesima melihat kekuatan Lynx saat menghadapi para perampok. Tapi saat itu, mereka belum tertarik untuk memanfaatkan pria itu. Ketertarikan baru muncul ketika mereka menyaksikan jasad naga besar terbujur diam di tanah saat melintasi portal dimensi. Ditambah cerita dari suku Surya tentang pertempuran Lynx menghadapi suku Monrest dan naga besar membuat Mira mulai mempertimbangkan sesuatu.

Selama tiga tahun setelahnya, Mira kehilangan jejak Lynx. Tidak ada informasi mengenai keberadaannya, bagaikan kabut yang lenyap ditelan malam. Namun saat Lynx terlibat dalam pertarungan melawan leluhur Sekte Api Langit, Mira akhirnya menemukannya kembali. Sejak saat itu, ia terus mengawasinya dari jauh, menggunakan ilmu sihirnya untuk mengintip pergerakan pria itu dan orang di sekitarnya tanpa diketahui siapa pun.

Mira menatap Jelita dengan senyum samar, jemarinya masih menyentuh lembut pipi gadis itu. Tatapannya menusuk, seolah membaca seluruh isi hati yang rapuh dan berkecamuk.

"Kenapa kamu harus terus menyiksa diri? Dia bahkan tak pernah melihatmu. Selalu Leena yang ada di sisinya, selalu dia yang dibela. Kamu hanya bayangan baginya. Ada banyak wanita yang selalu berada di sisinya." bisik Mira dengan suara pelan namun merayap dingin ke dalam relung pikiran Jelita.

Jelita menunduk. Tubuhnya lemas, pikirannya kabur di antara keraguan dan sakit hati.

"Kau ingat semua luka itu, kan? Bagaimana Leena  mengambil tempat yang seharusnya menjadi milikmu. Bagaimana Lynx tak pernah tahu siapa yang benar-benar peduli. Kau pantas mendapat lebih, Jelita" lanjut Mira, kini suaranya nyaris seperti nyanyian meninabobokan dan membangkitkan rasa dendam yang terpendam.

Dari balik jubahnya, Mira mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan berkilau kebiruan. Ia menyodorkannya dengan senyum penuh arti.

"Beri ini padanya. Satu tetes saja dan Lynx akan melihatmu. Hanya kamu. Tak ada lagi bayangan Leena, tak ada lagi luka di hatimu. Selamanya kamu akan bahagia."

Jelita memandang botol itu, tangannya gemetar saat menerimanya. Matanya menatap kosong, tubuhnya nyaris tak merespons saat Mira menyentuh dahinya perlahan.

"Lupakan" bisik Mira tepat di telinganya, kemudian tubuhnya memudar, menghilang bagaikan asap yang ditelan angin.

Jelita tersentak. Nafasnya memburu. Ia berdiri sendiri di tempat yang sunyi, bingung, keningnya berkerut dalam kebingungan yang mencengkeram. Tangannya mengepal dan saat ia melihat ke bawah, sebuah botol kecil tergenggam erat di telapak tangannya.

"Apa ini... Siapa yang memberikannya padaku..." gumamnya lirih, tapi tidak ada jawaban. Tidak ada bayangan atau suara. Hanya sepi.

Ia memandangi botol itu lama. Ada keraguan di matanya, ada getar di dadanya. Ia menyimpannya di balik pakaiannya dengan pelan. Samar dia merasa botol itu bisa membantunya mendapatkan Lynx.

Namun dalam diam yang menyelimuti pikirannya, satu hal mulai tumbuh perlahan. Perasaan asing yang semakin kuat. Kebencian. Bukan hanya kepada Lynx, tapi terutama kepada Leena. Perempuan itu. Wajahnya. Suaranya. Semua tentangnya membuat darah Jelita berdesir panas.

Di balik kaca kristal, Mira tersenyum memandangi wajah jelita yang terpancar dari cermin.

"Aku tidak sabar menyaksikan pertunjukan menarik di dunia membosankan ini. Dan kamu, Lynx... aku akan membuatmu menderita sampai tubuhmu bisa kuambil sepenuhnya. Akan jadi milikku, sepenuhnya." Suaranya pelan, nyaris berbisik, tapi penuh hasrat yang membara.

Selama mengawasi Lynx, Mira menyaksikan berbagai kemampuan luar biasa yang dimiliki pemuda itu. Semakin banyak yang ia lihat, semakin besar ketertarikannya.

Senyum jahat mengembang di wajahnya saat bayangan rencana demi rencana menari di benaknya. Tangannya bergerak pelan menyentuh permukaan kaca, seolah bisa menembus batas antara dirinya dan Lynx.

***

Mendengar cerita Lynx mengenai kondisi Lala, ekspresi Leena langsung berubah.

"Lynx... lalu di mana Lala? Kalau kamu tahu kondisi Lala seperti itu, kenapa tidak kamu bebaskan dia dulu baru lakukan semua ini?" suara Leena meninggi, nada bicaranya penuh kejengkelan.

Lynx tidak menduga reaksi itu. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, wajahnya terlihat canggung.

"Kita bebaskan dia sekarang," ujarnya cepat.

Kanaya dan Ratih yang melihat kejadian itu saling berpandangan, ekspresi mereka heran bercampur geli.

Ternyata pria sehebat itu tetap saja takut pada pasangannya, batin mereka nyaris bersamaan.

Lynx mengangkat tangan kirinya dan mengarahkannya lurus ke satu titik di dalam bangunan. Dalam sekejap, tanah seperti dibor dari dalam, terbuka lebar membentuk lorong menuju tempat Lala disekap. Dinding-dinding seolah hanya kertas, berlubang saat energi Lynx menerobos dan membuat jalan.

Ratih masih terpaku, rasa terkejutnya belum juga hilang setelah menyaksikan rangkaian peristiwa tak masuk akal itu.

"Kanaya, apa yang kamu tahu tentang metahuman ini? Bagaimana bisa dia punya kekuatan seperti itu?" tanyanya dengan suara pelan, nyaris berbisik.

Kanaya tidak menjawab. Ia hanya diam menatap lorong yang baru saja terbentuk, tubuhnya tak bergerak sedikit pun. Keinginannya untuk melawan telah lenyap. Ia bahkan tak bisa membayangkan cara apa pun untuk melawannya.

"Bagaimanapun caranya, aku harus mendapatkan hati pemuda itu. Dunia ini tidak ada apanya dihadapan pemuda itu." Batin Kanaya.

Sebelum Lynx dan Leena sempat memasuki lorong yang dibuat oleh Lynx menuju bangunan tempat Lala disekap, beberapa rudal melesat dari kejauhan dengan kecepatan luar biasa, mengarah langsung ke posisi mereka.

DUAR!

Suara ledakan dari rudal terdengar keras menimbulkan keretakan di gunung es tempat mereka berada. Kanaya dan Ratih melompat menghindari pecahan gunung es yang meledak ke segala arah.

Namun, rudal tersebut meledak tanpa mengenai target sasaran. Dengan kepekaan tinggi yang dimiliki, Lynx dan Leena sudah merasakan gelombang energi dari serangan itu bahkan sebelum rudal mendekat. Mereka segera bergerak, berpencar dalam gerakan nyaris tak terlihat, menghindari jalur ledakan.

DUAR!

Rudal berikutnya muncul kembali berusaha mengenai mereka. Suara dentuman mengguncang udara, serpihan tanah dan api menyebar di sekitar titik serangan. Tapi keduanya tetap utuh, tak satu pun dari mereka tersentuh.

Lynx menoleh ke Leena, wajahnya serius.

"Kau jemput Lala. Biar aku yang urus ini," ucapnya mantap, lalu melindungi bangunan dengan formasi agar tidak jatuh karena serangan tersebut.

Tak lama kemudian, sebuah robot tempur muncul di langit. Tubuhnya diselimuti logam  mengilap, dengan mata merah menyala di balik pelindung. Di dalamnya, seorang pilot manusia mengendalikan setiap gerakannya.

Kanaya menatap ke atas, matanya membelalak.

"Zephyron... dia di sini? Bagaimana dia bisa tahu?"

Ratih ikut menatap ke langit, dahinya mengernyit.

Meski Zephyron terkenal kuat, Ratih tak yakin dia akan cukup untuk menghadapi Lynx. Ia tahu betul, kekuatan pemuda itu bukan sesuatu yang bisa diremehkan.

